Soal pulau Berhala ini apa yang dilakukan Romi sebenarnya cukup unik. Pulau itu sempat memantik ketegangan Jambi dan Kepulauan Riau dekade silam. Dan akhirnya pada 2013 diputus MK sebagai wilayah administratif Kepri yang masuk bagian Kabupaten Lingga. Namun Romi tak bergeming. Saat baru terpilih sebagai bupati, pada 17 Mei 2017 Romi bertandang ke Lingga. Dia membuat pendekatan pada Pemkab dan tokoh – tokoh Lingga. Dengan narasi saudara serumpun dan memanfaatkan fakta tingginya hubungan dagang antar masyarakat berbatasan, ditambah banyaknya kesamaan potensi seperti perikanan dan perkebunan kelapa dalam, Romi berhasil menggugah semangat Lingga untuk sepakat bahwa Pulau Berhala perlu dikelola bersama.
Fakta di atas bukan soal pulau eksotis bernama Berhala. Lebih dari itu, apa yang dilakukan Romi sebenarnya antitesis dari apa yang dilakukan HBA selaku gubernur Jambi yang gagal mempertahankan Pulau Berhala 2013 itu. Andai saja waktu itu pendekatan yang dikedepankan Pemprov Jambi seperti yang dilakukan Romi, boleh jadi pulau berhala tak perlu sampai bersengketa hingga ke MK. Hal itu ditegaskan langsung Alliyas Wello, bupati Lingga 2017. Wello yang didampingi sejumlah tetua adat berseloroh bahwa sebenarnya Kepri tak risau melepas satu pulau berhala yang luasnya tak seberapa itu. Hanya saja Kepri tak mau kehilangan marwah menghadapi pendekatan hukum yang ditempuh Jambi kala itu. Bagi sebagian masyarakat utamanya mereka yang tinggal di rumpun tanah Melayu, untuk menyelesaikan sebuah masalah kadang lebih efektif pendekatan kekeluargaan ketimbang pendekatan formal. Romi tampaknya sangat memahami itu. Dan gaya komunikasi demikian tidak bisa dibuat – buat. Ia membutuhkan talenta natural yang bersesuaian dengan gestur.
Soal gaya komunikasi ini, Romi dan Alharis sebenarnya punya banyak kesamaan. Keduanya sama – sama mudah terlihat akrab dengan lawan bicara. Mudah berbaur ketika bertemu warga. Namun ada beberapa hal yang membedakan. Misalnya soal pakaian. Alharis selalu tampil resmi. Berbaju dinas lengkap dengan emblem-emblemnya. Kalau dalam acara keagamaan biasanya Alharis terlihat berkopiah lengkap dengan sorban di lehernya. Alharis juga tak sungkan menampilkan dokumentasi dirinya pada beberapa moment seperti sedang menggiling sambal dengan uleg an. Atau mengisahkan perjalanan hidupnya yang sempat berjualan martabak.
Sedangkan Romi, nyaris membuat siapa saja kesulitan menemukan dia berpakaian resmi. Jangankan Jas atau PSR, mengenakan PDH saja boleh dibilang setahun mungkin tak lebih dari lima kali. Sehari – harinya ya baju kemeja yang kebanyakan kotak – kotak. Atau sesekali pakai baju koko tanpa kopiah. Namun jangan salah, meski ‘tak tertib’ soal pakaian ini, Romi sangat memperhatikan batik. Untuk ASN Tanjabtim; jangan coba – coba hadir di acara Pemkab dengan batik selain batik Tanjabtim.
Bersambung halaman berikutnya…
Penulis : Willy Bronson
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Brita Jambi
Halaman : 1 2 3 4 5 6 Selanjutnya







Komentar