Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich

Kamis, 30 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Diskominfo Tanjab Timur

Foto: Diskominfo Tanjab Timur

Oleh: Dedi Saputra.

Britajambi.id – Takkan lari gunung dikejar, takkan hilang arah nakhoda mengemudi. Begitulah kilas balik perjalanan sebuah daerah tatkala pembangunan tidak lagi diukur semata dari kerasnya semen dan tingginya beton, melainkan dari seberapa jauh ia merawat akal budi manusia. Di bumi “Sepucuk Nipah Serumpun Nibung”, langkah progresif baru saja ditorehkan oleh Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang sukses memboyong dua program strategis nasional sekaligus, yakni Sekolah Rakyat dan Sekolah Terintegrasi. Kehadiran dua institusi ini bukan sekadar tambahan fasilitas di atas kertas, melainkan sebuah manifestasi keberanian moral dan ketajaman politik anggaran dari seorang kepala daerah untuk membongkar sekat-sekat ketimpangan akses yang selama ini mengakar, sejalan dengan petuah adat yang berbunyi, “kalau mendaki menaikkan jenjang, kalau menuruni menurunkan tangga”, yang mengajarkan bahwa pemimpin sejati selalu hadir untuk menaikkan derajat harkat dan martabat rakyatnya.

Keberhasilan memboyong program strategis ini tentu tidak bisa dilepaskan dari konstelasi kepemimpinan lokal yang dipegang oleh seorang perempuan visioner, Dillah Hikmah Sari atau yang akrab dikenal sebagai Dillah Hich. Secara sosiologis, sosok perempuan memiliki kedekatan nurani yang inheren dengan kehidupan anak-anak sehari-hari, sebab bagaimanapun juga, “ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”. Dari rahim kepemimpinan seorang perempuan, lahir kepekaan yang luar biasa dalam membaca detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh birokrasi yang kaku, di mana seorang ibu tahu persis bagaimana meramu, merawat, dan mempersiapkan masa depan anak-anak secara matang. Inilah bentuk nyata dari politik perempuan yang mengedepankan empati sebagai panglima, membuktikan bahwa ketegasan tidak harus selalu tampil dalam konfrontasi keras, melainkan melalui ketekunan melobi dan ketulusan merajut kebijakan yang langsung menyentuh urat nadi kemanusiaan, persis seperti seloko adat jambi, “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, di mana susah senang rakyat dirasakan sebagai denyut nadi kepemimpinannya sendiri.

BACA JUGA :  Laporan Pembongkaran Jembatan Desa Mendahara Tengah Terus Bergulir, Kasi Intel: Tahap Klarifikasi

Sering kali, kebijakan afirmatif di daerah langsung dihakimi secara simplistis sebagai reaksi atas Indeks Pembangunan Manusia yang rendah, padahal cara pandang seperti ini keliru dan mereduksi esensi kerja-kerja politik yang strategis. Masuknya Sekolah Rakyat dan Sekolah Terintegrasi ke Tanjab Timur bukanlah bentuk pengakuan atas kelemahan, melainkan buah dari daya dorong politik lokal yang kuat serta lobi agresif dari sang Bupati untuk memotong rantai ketimpangan akses. Sebagaimana pepatah bijak mengingatkan kita bahwa “pendidikan adalah paspor untuk masa depan, karena esok adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini”. Selama ini, problem mendasar di wilayah dengan geografis menantang bukanlah kemauan belajar anak-anaknya, melainkan ketersediaan akses yang adil, sebab di mana ada kemauan, di situ ada jalan, dan pemerintah daerah hadir merentangkan jalan tersebut agar tidak ada anak yang tertinggal di belakang.

Arsitektur keadilan ini dirancang dengan segmentasi yang sangat presisi melalui dua jalur utama yang saling melengkapi. Program Sekolah Rakyat hadir secara khusus sebagai intervensi afirmatif untuk menjawab jerit tangis struktural anak-anak dari keluarga prasejahtera, memastikan bahwa kemiskinan orang tua tidak boleh menjadi warisan nasib bagi anak-anak mereka, sejalan dengan falsafah hidup “anak dipangku keponakan dibimbing, orang tua disembah”. Negara hadir melalui tangan dingin pemerintah daerah untuk merangkul mereka yang marjinal agar kelak berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan anak-anak lainnya. Di sisi lain, Sekolah Terintegrasi diposisikan sebagai inkubator talenta atau “center of excellence” bagi anak-anak yang memiliki prestasi menonjol, sebab “ilmu tanpa amal adalah omong kosong, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan”, sehingga daerah ini tidak hanya menyiapkan generasi yang santun secara moral, tetapi juga memiliki daya saing tinggi dan menguasai ilmu pengetahuan modern demi menyongsong masa depan bangsa.

BACA JUGA :  Bidkum LMPP Jambi Soroti Pembongkaran Jembatan Parit 10 di Mendahara Tengah, Minta Aparat Usut Dugaan Pelanggaran Pengelolaan Aset Negara

Pembangunan fisik bersifat sementara dan akan usang dimakan zaman, namun investasi pada kualitas manusia melalui pendidikan yang berkualitas adalah aset abadi yang nilainya berlipat ganda dari waktu ke waktu. Ketika seorang anak dari keluarga prasejahtera diselamatkan masa depannya lewat Sekolah Rakyat, atau ketika seorang anak jenius diasah potensinya di Sekolah Terintegrasi, mereka bertransformasi menjadi agen perubahan yang kelak mengangkat derajat keluarga dan menggerakkan roda peradaban lokal. Langkah strategis di Tanjung Jabung Timur ini membuktikan kebijaksanaan pepatah tua bahwa “takkan Melayu hilang di bumi, takkan cerdik pandai putus di negeri”, di mana kemajuan sejati hanya akan terwujud apabila para pemimpinnya senantiasa menanam modal sunyi berupa kecerdasan generasi penerus. Inilah peletakan fondasi peradaban jangka panjang yang menempatkan masa depan anak-anak di garis terdepan, membuktikan bahwa kepemimpinan yang membumi dari seorang perempuan sekelas Dillah Hich mampu merajut asa dan membawa tanah kelahiran menuju gerbang kemandirian yang bermartabat.

Follow WhatsApp Channel britajambi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pers vs Kreator Konten Digital: Tantangan Regulasi di Era Transformasi Media
Polemik Revisi UU TNI : Melampaui Trauma Orde Baru dan Menjawab Tantangan Masa Kini melalui Perspektif Komunikasi Politik
Mengacak Arah Lembaga Pendidikan “Bahaya Keterlibatan Kampus Dalam Bisnis Tambang”
Krisis Komunikasi Pemerintahan di Provinsi Jambi, Antara Dinas Kesehatan dan Gubernur Al Haris
Wacana Pilkada Lewat DPRD, Menjaga Substansi Demokrasi di Tengah Tantangan Prosedural
Serangan Al Haris-Sani : Tanda Kelemahan Dibalik Ketakutan Terhadap Romi-Sudirman
Balada Residivis Narkotika di Parlemen
Janji MANTAP, Realita Buruk : Al Haris Tersandera Isu Batu Bara

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:13

Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich

Senin, 12 Mei 2025 - 13:42

Pers vs Kreator Konten Digital: Tantangan Regulasi di Era Transformasi Media

Minggu, 16 Maret 2025 - 11:47

Polemik Revisi UU TNI : Melampaui Trauma Orde Baru dan Menjawab Tantangan Masa Kini melalui Perspektif Komunikasi Politik

Minggu, 26 Januari 2025 - 14:11

Mengacak Arah Lembaga Pendidikan “Bahaya Keterlibatan Kampus Dalam Bisnis Tambang”

Sabtu, 11 Januari 2025 - 11:26

Krisis Komunikasi Pemerintahan di Provinsi Jambi, Antara Dinas Kesehatan dan Gubernur Al Haris

Berita Terbaru

Foto: Diskominfo Tanjab Timur

Opini

Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich

Kamis, 30 Jul 2026 - 21:13