Sebagai gubernur tak bisa dipungkiri Alharis fullpower. Dia punya kekuatan birokrasi yang menjangkau hingga kabupaten kota. Misalnya saja para kepala SMA atau SMK berikut guru – gurunya. Belum lagi para pejabat sementara kepala daerah yang jumlahnya terus bertambah. Ada Pj bupati Sarolangun, Pj Bupati Tebo, Pj Bupati Muarojambi, Pj Walikota Jambi, Pj Bupati Kerinci dan Pj Bupati Merangin. Seandainya saja semua pejabat publik itu ‘loyal’ kepada Alharis, dipastikan perjuangan Romi Hariyanto tidaklah mudah. Ia akan menempuh jalan terjal, berliku dan mungkin saja mendaki.
Lantas apakah kondisi itu tidak diperhitungkan Romi ketika menyatakan sikap untuk bertarung di pilgub Jambi? Bukan Romi namanya kalau tak berhitung.
Romi adalah politisi yang malang melintang dalam berbagai pertarungan. Dia tidak karbitan. Ujian yang ia hadapi selalu tak mudah. Romi sering berada dalam pusaran konflik yang terkadang sengaja dia menerjunkan diri. Langkah Romi sering tak terbaca. Dia kerap menentang kelaziman. Kadang nyeleneh dan aneh.
Pada 2015, pasca Zumi Zola meninggalkan Tanjabtim lantaran ikut bertarung sebagai calon gubernur Jambi menantang Hasan Basri Agus (HBA), Romi memperebutkan PAN sebagai kendaraan di Pilbup Tanjabtim. Lawannya Sum Indra. Mantan Wakil Walikota Jambi, kader PAN.
PAN Tanjabtim saat itu memang seksi. Menguasai 50 persen kursi DPRD setempat, siapapun yang diusung PAN akan punya kekuatan besar untuk memenangkan Pilbup waktu itu. Perebutan PAN itu memanas. Kubu Romi dan Sum Indra sama-sama bermanuver demi mendapat mandat PAN. Nyaris tak ada yang bisa membantah bahwa Sum Indra lah yang paling berpeluang.
Bersambung halaman berikutnya….
Penulis : Willy Bronson
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Brita Jambi
Halaman : 1 2 3 4 5 6 Selanjutnya







Komentar