Perbedaan soal gaya berpakaian itu sempat menghebohkan masyarakat Jambi. Pasalnya, dalam sebuah acara resmi Alharis sempat menyindir keras soal pakaian ini. Meski tak menyebut nama, sulit untuk menghindarkan spekulasi bahwa yang dimaksud gubernur adalah Romi yang memang juga hadir di acara tersebut.
Kembali soal inovasi kerjasama tadi. Selain dengan Banyuasin dan Lingga, Romi juga menggagas kerjasama dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat sekaligus dengan Kabupaten Indragirihilir Riau. Ketiga wilayah ini saling berkelindan. Saat ini sedang berproses terhubungnya transportasi darat yang menghubungkan ketiga wilayah. Meliputi Geragai – Mendahara – Betara – Pengabuan – Pulaukijang – Tembilahan. MoU sudah diteken pada Nopember 2021/ ruas ini lebih Efisien. Memangkas sekitar 150 KM dari 270 KM jika melalui jalur memutar via Tungkalulu seperti saat ini. Jalur ini menjadi alternatif sekaligus jawaban atas upaya percepatan peningkatan sinergi ketiga wilayah yang selama ini sudah berjalan natural. Interaksi perdagangan masyarakat ketiga wilayah ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Saat jalur ini efektif tentu akan membawa kemajuan bagi wilayah yang dilewatinya. Peluang maju bersama ini yang dilihat Romi. Inovasi seperti ini semestinya porsi gubernur. Open minded. Tidak mengedepankan ego sentris. Karena itu Bappenas dan Kemendagri sangat mendukung langkah tak biasa itu. Belum pernah ada daerah mengajukan dukungan pembangunan tapi dalam kerangka kemajuan bersama daerah saling berbatasan. Hal itu diapresiasi Bappenas dan Kemendagri.
Ada satu pertanyaan menarik; pernahkan anda mendengar isu jual beli jabatan dalam pemerintahan Romi ? Atau pernahkah anda mendengar adanya pengusaha yang mengeluhkan soal perizinan ? Soal mahar izin pabrik misalnya ? Nyaris tak pernah ada. Coba perhatikan komposisi para pembantu Romi. Kesannya jauh dari nepotisme. Belum pernah muncul isu jual beli jabatan sebagaimana di sejumlah daerah yang ada banderolnya. Begitu pula soal perizinan. Salah seorang Taipan Jambi pernah berstatement kepada salah seorang pejabat Polri bahwa di Tanjabtim itu clear untuk para pengusaha. Dia menegaskan kepada si polisi bahwa rekan – rekannya sesama pengusaha merasa aneh bahwa di Tanjabtim tidak ada praktik mahar atau fee bagi mereka yang mau berinvestasi. Lucunya, saat si taipan bercerita dia tak mengenali bahwa teman bicaranya yang kebetulan berdiri di sebelah pejabat polisi adalah Romi. Moment itu terjadi saat mereka sama – sama menghadiri resepsi pernikahan anak salah seorang petinggi di Jambi.
Informasi – informasi seperti itu terpublish tapi tidak cukup menarik sebagai isu viral. Berbeda ketika Romi meluapkan kekesalannya pada Petrochina, perusahaan migas pengelola Blok Jabung, Maret lalu. Statemen keras Romi langsung viral dan memenuhi linimasa medsos maupun media mainstream. Sebenarnya bukan soal pernyataan keras Romi yang membuat publik mengapresiasi. Tapi lebih pada keberaniannya. Dimana keberanian itu dapat diterjemahkan sebagai bersihnya Romi dari praktik cawe – cawe yang lazim dalam hubungan pemerintah dan swasta seperti itu. Apalagi ternyata kemarahan Romi itu bukan yang pertama kali. Pada 2019 silam Romi pernah membuat pernyataan jauh lebih keras di hadapan presiden Petrochina yang datang ke Muarsabak bersama Dirjen Migas dan Kepala SKK Migas. Bukan hanya perusahaan migas itu yang pernah kena semprot. Sebelumnya, pada 2017 PT Wira Karya Sakti (WKS) pernah dipermalukan di forum resmi MTQ Tingkat Provinsi. Lantaran raksasa perusahaan pengolahan kayu tersebut tak berandil dalam hajatan keagamaan itu. Andai saja seorang Romi suka cawe – cawe, mana berani dia bersikap keras seperti itu. Logika yang sulit dibantah di tengah masyarakat.
Pun soal kebijakan. Tanjabtim adalah Kabupaten pelopor mewajibkan ASN membeli beras petani lokal. Saban gajian ASN tak hanya membawa pulang gaji yang langsung masuk ke rekening tapi juga sekarung beras yang dipasok oleh petani.
Sebenarnya sangat banyak lagi kelebihan seorang Romi yang patut disebarluaskan sebagai informasi atau lebih jauh sebagaj referensi publik Jambi. Namun kadangkala terbentur oleh keengganan Romi membuka informasi – informasi itu. Dia tak mau terkesan lebay. Misalkan saja soal kegitan Umroh yang rutin ia jalankan setiap tahun. Sangat banyak kisah – kisah menarik yang sebetulnya cukup baik dan inspiratif. Belum lagi kisah – kisah tentang perjalanan hidup keluarganya yang ia ceritakan hanya pada beberapa kawan. Apalagi tentang transformasi dirinya. Sangat bernilai edukasi moral. Hanya saja itu tadi, Romi termasuk tipe orang yang lebih memilih tak bercerita daripada ceritanya akan dianggap lebay.***
Penulis : Willy Bronson
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Brita Jambi







Komentar