Apakah Kita Perlu Ikut Campur Dengan Konflik di Palestina

Avatar

Sabtu, 15 Juni 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Wanda (Mahasiswa UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi)

OPINI – Pemerintah dan masyarakat Indonesia bersimpati kepada Palestina dalam kaitannya dengan aksi sepihak yang dilakukan Israel dalam mengklaim Yerusalem sebagai ibukota. Dari sisi sejarah, Indonesia memang sepatutnya terus mendukung Palestina.

Tak hanya Indonesia, masyarakat internasional juga banyak yang bersimpati terhadap penderitaan warga Palestina yang wilayahnya terus menerus dicaplok Israel. Pasca Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel — dengan memindahkan ibukota ke kota suci itu — sejumlah pemimpin dunia ikut mengecam. Akan tetapi untuk Indonesia, ada faktor lain selain kemanusiaan yang menjadi alasan mengapa perlu terus mendukung Palestina. Palestina dan Mesir menjadi pihak yang mengakui paling awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

BACA JUGA :  Maulid Nabi Muhammad SAW di Teluk Dawan, Camat Vidi Akbar Dorong Penguatan Silaturahmi 

“Saat itu Palestina memang belum jadi negara, belum merdeka. Orang-orang arab yang ada di sana yang merupakan Liga Arab mengakui kemerdekaan kita. Kita harus menghormati pengakuan dari mereka tersebut,” kata sejarawan UI Rusdi Hoesin dalam perbincangan, Jumat (8/12/2017).

Adapun deklarasi kemerdekaan Palestina dilakukan pada 15 November 1988. Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Yasser Arafat di sidang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang kemudian terpilih sebagai Presiden pertama Palestina.

BACA JUGA :  Maulid Nabi Muhammad SAW di Teluk Dawan, Camat Vidi Akbar Dorong Penguatan Silaturahmi 

“Banyak yang tidak setuju kalau Yahudi kembali ke situ. Apa urusannya dia mengusai wilayah yang isinya adalah orang-orang arab,”

Alasan kedua Indonesia adalah bangsa religius. Dalam agama, ada penolakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia suatu bangsa oleh bangsa lain. “Semua agama, tidak membenarkan penjajahan,”

Masjid al-Aqsa adalah satu-satunya Masjid yang kedudukannya hampir sama dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Awal Islam, Masjid Aqsa (Baitul Maqdis) bahkan menjadi kiblat shalat lebih dari 10 tahun. Rasulullah SAW pun melakukan Mi’raj dari Yerusalem. Sangat wajar jika Umat Islam mempunyai keterkaitan kuat dengan Yerusalem,”

Follow WhatsApp Channel britajambi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rakyat Bahagia Tarik Tambang, Pejabat Pesta Tarik Anggaran
Delapan Tahun Mengawal Demokrasi, Bawaslu Teguhkan Komitmen Kawal Pemilu Berintegritas
Menghirup Kopi, Menatap Masa Depan: Merdeka yang Sesungguhnya bagi Pemuda Tanjab Timur
Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich
Pers vs Kreator Konten Digital: Tantangan Regulasi di Era Transformasi Media
Polemik Revisi UU TNI : Melampaui Trauma Orde Baru dan Menjawab Tantangan Masa Kini melalui Perspektif Komunikasi Politik
Mengacak Arah Lembaga Pendidikan “Bahaya Keterlibatan Kampus Dalam Bisnis Tambang”
Krisis Komunikasi Pemerintahan di Provinsi Jambi, Antara Dinas Kesehatan dan Gubernur Al Haris

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:45

Rakyat Bahagia Tarik Tambang, Pejabat Pesta Tarik Anggaran

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:10

Delapan Tahun Mengawal Demokrasi, Bawaslu Teguhkan Komitmen Kawal Pemilu Berintegritas

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:32

Menghirup Kopi, Menatap Masa Depan: Merdeka yang Sesungguhnya bagi Pemuda Tanjab Timur

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:13

Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich

Senin, 12 Mei 2025 - 13:42

Pers vs Kreator Konten Digital: Tantangan Regulasi di Era Transformasi Media

Berita Terbaru