Empat Dapur SPPG di Tanjab Timur Tutup, Rajali: Jangan Jadikan Anak-Anak Korban Konflik Internal

Avatar

- Redaksi

Senin, 16 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Britajambi.id – Penutupan empat dapur SPPG di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur) menuai sorotan. Aktivis daerah, Rajali, menyayangkan terhentinya operasional dapur yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Geragai, Muara Sabak Barat, dan Dendang.

Penutupan tersebut berdampak langsung terhadap penerima manfaat, khususnya anak-anak yang selama ini bergantung pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Empat dapur SPPG yang sebelumnya aktif menyediakan layanan makanan bergizi kini tidak lagi beroperasi.

Berdasarkan informasi yang berkembang, penghentian layanan dipicu oleh konflik internal antara pihak SPPG dan pengelola yayasan terkait tata kelola dan manajemen operasional. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi yang disampaikan secara terbuka kepada publik mengenai akar persoalan tersebut.

Rajali menilai, apapun bentuk persoalan internal yang terjadi, seharusnya tidak berujung pada terhentinya pelayanan gizi anak. Ia menegaskan bahwa kelompok penerima manfaat, terutama anak-anak, tidak boleh menjadi korban dari konflik administratif maupun perbedaan kepentingan antar pengelola.

“Kalau ada konflik internal, selesaikan di meja perundingan. Jangan jadikan anak-anak sebagai korban dari persoalan administratif dan kepentingan internal yang tak berujung,” kata Rajali kepada Britajambi.id, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, keberadaan dapur SPPG memiliki fungsi strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak. Program MBG bukan sekadar bantuan konsumsi, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Penutupan secara mendadak, lanjutnya, tidak hanya mengganggu distribusi makanan bergizi, tetapi juga berpotensi memicu keresahan sosial di tingkat desa dan kecamatan. Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya manajemen konflik dan koordinasi antar pihak yang terlibat.

Rajali juga menyoroti minimnya transparansi dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Ia menilai ketidakjelasan justru memperbesar spekulasi dan asumsi liar di tengah publik.

“Informasi yang berkembang menyebutkan adanya ketidaksepahaman antara pihak SPPG dan yayasan. Namun publik berhak mendapatkan penjelasan yang jelas agar tidak muncul asumsi liar,” ujarnya.

Sebagai aktivis daerah, ia mendesak pemerintah daerah segera turun tangan untuk memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak. Keberlangsungan layanan MBG, menurutnya, harus menjadi prioritas utama dibandingkan ego sektoral atau konflik internal organisasi.

“Jika konflik ini terus berlarut, dampaknya bukan hanya pada penerima, tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap SPPG dan yayasan yang bergerak di bidang pelayanan MBG,” tambahnya.

Rajali berharap penyelesaian dapat ditempuh melalui dialog terbuka dan mekanisme yang adil. Ia menekankan bahwa profesionalisme, transparansi, dan komitmen kemanusiaan harus menjadi fondasi utama dalam pengelolaan program MBG.

“Penutupan empat dapur SPPG di wilayah Kabupaten Tanjab Timur menjadi pengingat bahwa pengelolaan MBG membutuhkan profesionalisme dan tanggung jawab moral yang kuat. Ketika konflik muncul, yang harus dilindungi pertama kali adalah mereka yang menerima manfaat, terutama anak-anak,” tutupnya.

Follow WhatsApp Channel britajambi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wisuda Akbar Ponpes Al-Kautsar Berlangsung Khidmat, Kapolres Tanjab Timur Beri Apresiasi
Catatan Buruk Kepemimpinan Nurhidayah Kades Mendahara Tengah, Dinilai Lebih Mengutamakan Kepentingan Proyek daripada Kepentingan Masyarakat
Jembatan Dibongkar, Pemerintah Desa Bungkam: Publik Curiga Aset Desa “Dikorbankan” Demi Kepentingan Perusahaan
Terungkap! Ternyata Hal Ini yang Bikin Pelaku Tega Habisi Kakek AK di Desa Bunga Tanjung
Tebar Kepedulian di Hari Raya Idul Adha, PT SGAM Salurkan Hewan Kurban untuk Masjid dan Musholla di Parit Culum II
Pemuda Parit Culum 1 yang Tetap Membumi: Kisah Pengabdian Ferdi Hazrian
Demi Proyek CNG, Jembatan Negara di Mendahara Tengah Dirobohkan
Rasa Kian Dicari, Dapur Allung Kini Hadir Setiap Hari untuk Warga Jambi

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:56 WIB

Wisuda Akbar Ponpes Al-Kautsar Berlangsung Khidmat, Kapolres Tanjab Timur Beri Apresiasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:04 WIB

Catatan Buruk Kepemimpinan Nurhidayah Kades Mendahara Tengah, Dinilai Lebih Mengutamakan Kepentingan Proyek daripada Kepentingan Masyarakat

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:23 WIB

Jembatan Dibongkar, Pemerintah Desa Bungkam: Publik Curiga Aset Desa “Dikorbankan” Demi Kepentingan Perusahaan

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:53 WIB

Tebar Kepedulian di Hari Raya Idul Adha, PT SGAM Salurkan Hewan Kurban untuk Masjid dan Musholla di Parit Culum II

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:58 WIB

Pemuda Parit Culum 1 yang Tetap Membumi: Kisah Pengabdian Ferdi Hazrian

Berita Terbaru