Serangan Al Haris-Sani : Tanda Kelemahan Dibalik Ketakutan Terhadap Romi-Sudirman

Avatar

Rabu, 25 September 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dedi Saputra,S.Sos.,M.I.Kom

Pemilihan Gubernur Jambi tahun 2024 memperlihatkan dinamika yang menarik, terutama dalam konteks perilaku pasangan petahana Al Haris-Sani. Di saat seharusnya pasangan petahana menampilkan kekuatan dan rekam jejak keberhasilan, yang muncul justru serangan terhadap lawan politik, pasangan Romi-Sudirman, yang merupakan pendatang baru dalam kontestasi ini. Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar: Mengapa pasangan petahana, yang memiliki seluruh perangkat kekuasaan, malah mengambil langkah menyerang lawan?

Teori Politik: Serangan sebagai Tanda Kelemahan

Dalam dunia politik, serangan terhadap lawan sering kali dipahami melalui teori defensif-agresif. Teori ini menjelaskan bahwa serangan politik tidak selalu muncul dari posisi kekuatan, melainkan sering kali menjadi tanda kelemahan. Ketika sebuah rezim atau pasangan petahana merasa terancam oleh lawan, mereka cenderung menyerang sebagai bentuk defensif untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam menunjukkan prestasi yang signifikan.

Ini sejalan dengan konsep yang pernah diungkapkan oleh Machiavelli dalam The Prince, di mana ia menyatakan bahwa ketika seorang pemimpin merasa tidak cukup kuat untuk memenangkan simpati rakyat melalui kebijakan dan programnya, ia sering kali menggunakan taktik serangan dan propaganda negatif terhadap lawan untuk mengalihkan perhatian publik dari kegagalannya sendiri.

Dalam konteks Al Haris-Sani, langkah menyerang pasangan Romi-Sudirman dapat dilihat sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kurangnya pencapaian yang memuaskan selama mereka menjabat. Padahal, sebagai pasangan petahana, mereka semestinya mampu menunjukkan kinerja yang unggul dan prestasi yang meyakinkan tanpa perlu menyerang pendatang baru. Serangan ini justru mengindikasikan ketakutan terhadap daya tarik politik Romi-Sudirman yang semakin kuat, terutama dengan profil Romi yang dikenal sebagai “Pejuang Demokrasi” dan keberhasilannya meraih penghargaan internasional di bidang lingkungan.

BACA JUGA :  Peduli Kesehatan, SPPI Margasari Salurkan Bantuan Nutrisi untuk Anak Penderita TBC di Danaraja

Adat Melayu Jambi: Politik yang Menjunjung Tinggi Martabat

Jika dilihat dari perspektif adat Melayu Jambi, tindakan menyerang lawan politik secara terbuka bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya Melayu. Adat Melayu mengutamakan kesantunan, kehormatan, dan martabat dalam berperilaku, termasuk dalam dunia politik. “Berpucuk ke angin, bertali ke bumi”, salah satu seloko Jambi yang bermakna bahwa tindakan harus berakar pada kearifan lokal dan mengutamakan kehormatan, menunjukkan betapa pentingnya menjaga martabat dan etika, bahkan dalam persaingan politik.

Tindakan Al Haris-Sani yang menyerang pasangan Romi-Sudirman bisa dipandang sebagai pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar politik Melayu yang idealnya menghargai persaingan yang sehat dan beretika. Alih-alih membangun argumen berbasis program kerja dan keberhasilan, mereka memilih jalan yang memperkeruh suasana dan menurunkan level persaingan ke serangan personal atau kampanye negatif. Dalam politik Melayu yang mengutamakan adab, ini bisa dilihat sebagai bentuk kepanikan.

Mengapa Serangan Ini Bisa Menjadi Bumerang?

Serangan terhadap Romi-Sudirman pada akhirnya bisa menjadi bumerang bagi Al Haris-Sani. Masyarakat Jambi, khususnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi Melayu, sangat menghargai nilai kehormatan dalam komunikasi politik. Serangan yang tidak beretika akan membuat publik mempertanyakan motif di baliknya, dan hal ini justru bisa mengurangi elektabilitas petahana. Sementara itu, Romi-Sudirman bisa tampil sebagai korban dari taktik kotor politik, yang pada gilirannya mengundang simpati lebih besar dari masyarakat.

BACA JUGA :  Polres Tanjab Timur Gelar Patroli Gabungan, Sasar Kenakalan Remaja hingga Balap Liar

Sebagai politisi yang datang dengan visi baru dan reputasi bersih, Romi-Sudirman bisa memanfaatkan momen ini untuk menekankan bahwa mereka menawarkan perubahan, sedangkan Al Haris-Sani hanya bertahan dengan serangan-serangan yang tidak produktif. Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan dalam politik tidak selalu berasal dari serangan, tetapi dari kemampuan untuk membangun narasi positif dan solusi konkret untuk masyarakat.

Mengapa Kekuatan Sejati Berasal dari Kinerja?

Dalam kancah politik, terutama di tanah Melayu Jambi, kekuatan sejati terletak pada kemampuan pemimpin untuk menyentuh hati rakyat dengan kinerja yang nyata, bukan dengan retorika negatif. Al Haris-Sani, sebagai petahana, seharusnya fokus memperkuat narasi tentang keberhasilan dan komitmen mereka untuk melanjutkan pembangunan. Namun, jika mereka terus-menerus terjebak dalam strategi menyerang lawan, ini hanya akan menegaskan ketidakmampuan mereka dalam memenuhi harapan rakyat selama masa jabatan mereka. Sebaliknya, Romi-Sudirman, dengan pendekatan yang lebih positif dan merakyat, bisa muncul sebagai pilihan yang lebih segar dan relevan bagi masyarakat Jambi yang menginginkan perubahan.

Dengan demikian, serangan petahana terhadap lawan bukanlah tanda kekuatan, melainkan justru cerminan dari ketidakpercayaan diri dan kekhawatiran terhadap kekalahan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dalam politik, serangan yang tidak etis bukan hanya merusak citra pelaku, tetapi juga dapat menguatkan lawan yang menjadi target.(*)

Follow WhatsApp Channel britajambi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rakyat Bahagia Tarik Tambang, Pejabat Pesta Tarik Anggaran
Delapan Tahun Mengawal Demokrasi, Bawaslu Teguhkan Komitmen Kawal Pemilu Berintegritas
Menghirup Kopi, Menatap Masa Depan: Merdeka yang Sesungguhnya bagi Pemuda Tanjab Timur
Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich
Pers vs Kreator Konten Digital: Tantangan Regulasi di Era Transformasi Media
Polemik Revisi UU TNI : Melampaui Trauma Orde Baru dan Menjawab Tantangan Masa Kini melalui Perspektif Komunikasi Politik
Mengacak Arah Lembaga Pendidikan “Bahaya Keterlibatan Kampus Dalam Bisnis Tambang”
Krisis Komunikasi Pemerintahan di Provinsi Jambi, Antara Dinas Kesehatan dan Gubernur Al Haris

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:10

Delapan Tahun Mengawal Demokrasi, Bawaslu Teguhkan Komitmen Kawal Pemilu Berintegritas

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:32

Menghirup Kopi, Menatap Masa Depan: Merdeka yang Sesungguhnya bagi Pemuda Tanjab Timur

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:13

Naluri Ibu, Kekuatan Politik Dillah Hich

Senin, 12 Mei 2025 - 13:42

Pers vs Kreator Konten Digital: Tantangan Regulasi di Era Transformasi Media

Minggu, 16 Maret 2025 - 11:47

Polemik Revisi UU TNI : Melampaui Trauma Orde Baru dan Menjawab Tantangan Masa Kini melalui Perspektif Komunikasi Politik

Berita Terbaru