Oleh : Dedi Saputra,S.Sos.,M.I.Kom (Akademisi)
Kepemimpinan Al Haris, yang membawa tagline “MANTAP Lanjutkan,” kini dihadapkan pada kenyataan pahit, janji muluk yang diucapkan terasa jauh dari pencapaian nyata. Di balik upayanya untuk melanjutkan program-program pembangunan di Provinsi Jambi, salah satu tantangan terbesar yang muncul adalah persoalan batu bara sebuah isu yang terus menghantui masa pemerintahannya.
Tagline MANTAP yang dicanangkan Al Haris pada awal masa jabatannya memberikan harapan besar bagi masyarakat. Dengan janji untuk melanjutkan pembangunan, menciptakan kesejahteraan, serta menjaga pertumbuhan ekonomi, Al Haris seolah memberikan angin segar bagi masa depan Provinsi Jambi. Namun, realitas hari ini yang dihadapi tak sejalan dengan ambisi yang ia lontarkan, semuanya hanya janji manis.
Salah satu isu paling krusial saat ini adalah persoalan batu bara. Sektor ini memang memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi daerah, namun di sisi lain, persoalan transportasi batu bara yang merusak infrastruktur, polusi yang tak terkendali, serta dampak lingkungan yang parah menjadi bom waktu yang sulit diatasi.
Sejak awal, sektor tambang batu bara sudah menjadi sorotan. Kebijakan yang diambil Al Haris terkesan tidak mampu menjawab kompleksitas masalah ini. Jalanan yang rusak akibat angkutan batu bara, janji jalan khusus akan tuntas, kemacetan yang semakin parah, hingga kualitas udara yang menurun drastis menjadi bukti bahwa pemerintahannya seolah tersandera oleh kepentingan sektor ini.
Alih-alih memberikan solusi tegas, pemerintahan Al Haris terkesan ragu-ragu dalam mengambil langkah signifikan, ini menimbulkan sebuah pertanyaan, sebenarnya Al Haris membela siapa? Upaya untuk merumuskan kebijakan yang ramah lingkungan dan pro rakyat terhenti di tengah jalan. Pemerintahannya lebih terlihat melakukan penanganan yang bersifat tambal sulam memperbaiki sedikit, namun di framing media seolah-olah ini tuntas, namun tak menyentuh akar masalah.
Ketergantungan ekonomi terhadap batu bara membawa konsekuensi serius bagi pembangunan Jambi. Kepemimpinan Al Haris yang diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara ekonomi, pembangunan, dan lingkungan ternyata belum berhasil menciptakan harmoni tersebut. Pemanfaatan batu bara sebagai sumber daya ekonomi justru memunculkan kesenjangan besar dalam pembangunan, dengan lebih banyak dampak negatif yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Al Haris tampaknya gagal menangkap aspirasi masyarakat Jambi yang merindukan perubahan nyata. Janji untuk melanjutkan program pembangunan seakan terbentur oleh kepentingan elit industri yang memegang kendali di sektor tambang. Ini menciptakan kesan bahwa kepemimpinan Al Haris terjebak dalam dilema antara mendukung pertumbuhan ekonomi atau melindungi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.
Tagline “MANTAP Lanjutkan” yang pada awalnya menggugah optimisme kini terasa semakin hampa. Kepemimpinan Al Haris dihadapkan pada realitas buruk yang tak bisa diabaikan, terutama dalam isu batu bara. Persoalan ini menjadi simbol kegagalan pemerintahannya dalam menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Jika Al Haris tidak segera merespons dengan kebijakan yang jelas dan tegas, kepemimpinannya berisiko kehilangan kepercayaan dari masyarakat Jambi. Realita buruk dari janji yang tak terwujud bisa menjadi warisan yang sulit dihapuskan dalam sejarah politik Provinsi Jambi dan masyarakat bisa saja akan menghukum Al- Haris pada Pemilihan Gubernur 27 November mendatang.






Komentar