Britajambi.id – Gelombang kritik publik terhadap layanan kesehatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur kian mengeras. Insiden rusaknya ambulans milik RSUD Nurdin Hamzah yang tidak dapat digunakan dalam situasi darurat memantik kemarahan masyarakat sekaligus memunculkan tuntutan tegas kepada DPRD Tanjung Jabung Timur untuk segera bertindak.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu malam (21/3/) lalu, ketika seorang pasien membutuhkan ambulans untuk segera dibawa ke RSUD Raden Mattaher. Namun, harapan mendapatkan layanan cepat justru pupus. Ambulans yang seharusnya menjadi fasilitas utama dalam penanganan darurat ternyata dalam kondisi rusak dan tidak dapat dioperasikan.
Kondisi tersebut memaksa keluarga pasien mengambil keputusan kritis. Tanpa pilihan lain, mereka menggunakan kendaraan pribadi untuk membawa pasien ke rumah sakit Raden Mattaher, sebuah langkah yang penuh risiko dalam situasi yang berpacu dengan waktu.
“Kami sangat kecewa. Ini kondisi darurat, tapi ambulans tidak bisa dipakai karena rusak. Akhirnya kami bawa sendiri pakai mobil seadanya,” ungkap pihak keluarga dengan nada emosional.
Peristiwa ini dinilai bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan indikasi kuat adanya kelemahan dalam tata kelola fasilitas kesehatan. Publik menilai, kendaraan operasional seperti ambulans adalah elemen vital yang tidak boleh berada dalam kondisi tidak siap pakai, terlebih dalam sistem layanan kesehatan yang menyangkut keselamatan jiwa.
Desakan pun menguat agar DPRD Tanjung Jabung Timur segera memanggil Direktur RSUD Nurdin Hamzah, dr. Muhammad Nasrul Felani, guna memberikan klarifikasi terbuka. Masyarakat menuntut penjelasan menyeluruh terkait penyebab kerusakan ambulans, serta langkah konkret dan terukur untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sorotan juga mengarah pada transparansi pengelolaan anggaran. Publik mempertanyakan efektivitas penggunaan dana pemeliharaan fasilitas kesehatan yang dinilai belum maksimal. Mereka menegaskan, dengan pengelolaan yang baik dan pengawasan ketat, ambulans sebagai sarana krusial seharusnya selalu dalam kondisi siap siaga.
Kritik keras turut disampaikan oleh tokoh pemuda Tanjung Jabung Timur, Rajali. Ia menilai kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian serius dari pihak manajemen rumah sakit.
“Ini kelalaian serius. Pihak rumah sakit tidak bisa main-main dengan persoalan nyawa manusia. Jika terjadi sesuatu yang mengakibatkan orang meninggal dunia karena keterlambatan di perjalanan, siapa yang bertanggung jawab?” tegas Rajali, Senin (23/3/2026).
Upaya konfirmasi telah dilakukan media ini kepada Direktur RSUD Nurdin Hamzah, Nasrul Felani, untuk memberikan klarifikasi terkait insiden ini. Namun, hingga berita ini diturunkan sang Direktur belum bisa terhubung melalui sambungan via WhatsApp.






