Britajambi.id – Kebingungan dan kepanikan menyelimuti keluarga seorang pasien setelah menerima informasi diagnosa yang berbeda dari dua rumah sakit pemerintah. Peristiwa ini bermula dari penanganan medis di RSUD Nurdin Hamzah yang menyatakan bahwa pasien harus segera dibawa ke RSUD Raden Mattaher untuk menjalani tindakan operasi.
Menurut keterangan anak pasien, Yudi, dokter di RSUD Nurdin Hamzah menyampaikan bahwa kondisi pasien membutuhkan penanganan cepat melalui operasi, sehingga pasien harus segera diberangkatkan ke RSUD Raden Mattaher yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Informasi tersebut membuat keluarga panik dan berupaya secepat mungkin membawa pasien ke rumah sakit tersebut.
Namun, sesampainya di RSUD Raden Mattaher, hasil pemeriksaan dokter justru berbeda. Tidak ada rekomendasi ataupun indikasi medis yang menyatakan pasien harus menjalani operasi. Perbedaan diagnosa ini sontak menimbulkan tanda tanya besar dan keresahan bagi pihak keluarga.
“Kami sangat bingung. Di rumah sakit Nurdin Hamzah dibilang harus segera operasi, tapi sudah dua hari dirawat di RSUD Raden Mattaher tidak ada penjelasan seperti itu,” ungkap Yudi, Selasa (23/3/26).
Situasi semakin memprihatinkan karena pada saat kondisi mendesak tersebut, ambulans milik RSUD Nurdin Hamzah tidak dapat digunakan untuk mengantar pasien. Akibatnya, keluarga harus mencari alternatif transportasi sendiri dalam kondisi penuh tekanan dan keterbatasan waktu.
Peristiwa ini memicu dugaan adanya kelalaian dalam penyampaian diagnosa medis. Keluarga pasien menilai informasi yang diberikan oleh oknum dokter di RSUD Nurdin Hamzah tidak akurat dan berpotensi menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Atas kejadian ini, keluarga pasien mendesak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan pihak terkait untuk turun tangan dan memanggil dokter yang bersangkutan guna memberikan klarifikasi serta melakukan evaluasi profesional.
“Kami minta ada penjelasan dan tanggung jawab. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang dan merugikan pasien lain,” tegasnya.
Kasus ini menjadi sorotan penting terkait kualitas komunikasi medis, akurasi diagnosa, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan, khususnya dalam situasi darurat. Transparansi dan profesionalitas tenaga medis dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan publik.






